Min Qolbi

"Verily in the remembrance of God do hearts find rest." (13:28)

Bismillahirrahmanirrahim

I can't believe that my last post was in 2012! It has been almost 5 years since I last ventured into writing. These creative juices haven't been flowing for a very long time.

Long story short, I've completed my housemanship, got married and now 6 weeks postpartum with my first child, a beautiful daughter whom we've decided to name Aufa Safiyya.

Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah.

Being a mother and a first-timer at that, it was a roller-coaster ride for me.The first few weeks was very difficult for me. But I want to share from the beginning (since Aufa is asleep, i have 1-2 hours to myself).

I started my maternity leave at approximately 36 weeks POA (period of amenorrhea), at 9 months pregnant. Mostly because I wanted to deliver back at home and had to take a flight back so I decided to somewhat glitch my way a few days after the 34-35 weeks limit to most flights because I didn't want to waste my 90 days maternity leave.

My days at home were mostly routine for the last 4 weeks or so before my labor started. I woke up in the morning, went for walks at the park or swimming and rested for most of the time. I started shopping and arranging things at home in preparation for the day. I became quite emotional at the end of my pregnancy (I blame it on the surge of hormones).

So the last appointment with my O&G was at 39 weeks 5 days on Friday 18/11/2016. Just a routine one actually. My pregnancy was uneventful, I didn't even have morning sickness alhamdulillah. The thing was, during the antenatal scan, my O&G discovered that my liquor was reduced (read: Oligohydramnios). AFI was only 5! But I didn't have any leaking or rupture of membranes which was quite surprising to me and her. "I think you have to be admitted tonight and tomorrow we'll induce you, ok?"

Let me tell you, even being in the medical field this was like a bombshell just dropped onto me. I was shocked out of my wits! Being like the typical, emotional pregnant patient, I asked her can we just do it on Monday or Sunday. I wasn't ready for an induction.Of course she said no. So she did one CTG, I went home, packed my bags, ate my heart out and went back to the hospital at 9pm.

The next morning, another CTG was done, she examined me and said that my cervix was actually open 2-3cm. I even had contractions (shown by the CTG - I didn't feel them). So no prostin (a pill inserted into your vagina to kickstart contractions) for me, she ruptured my membranes artificially and started the oxytocin infusion.

I didn't request for an epidural when she offered because at the time, I was so confident that I could handle the pain. Boy was I wrong. So wrong! Contractions became excruciating at 11-ish am. I was already sweating and dancing on the bed with the CTG strapped to my belly. I kept asking to go to the toilet, begging the nurse and my O&G to free me of the CTG and the IV line. I didn't care how I looked, I was just trying to bear down the pain. Alhamdulillah, my mother was with me the whole time. She had to endure my strong grip on her hands when the contractions came. I didn't even let her go out of the room out of my sight!
My husband arrived around 2pm. At 3.40pm, my cervix was fully dilated so they converted my bed to a labour bed and started encouraging me. I tried pushing for 45-50 minutes. And I finally delivered my beautiful baby girl at 4.25pm on the 19/11/2016, vacuum-assissted. I realised, pushing out a baby out of you wasn't as easy as it looks.

I was discharged the next day in the evening alhamdulillah.

So that was my labor story.

An unforgettable experience. I'm not ready for another one yet, maybe in another 4-5 years. Haha. Pray for us ok.

Aufa at Day 40

Love,
Farah.

Bismillahirrahmanirrahim

Allah telah menuliskan semuanya; setiap detik perjalanan kita, setiap langkah yang diambil... Dan di situlah tarbiahnya, di situlah hikmahnya yang perlu kita cari; cari seperti ia sangat bernilai dan berharga bagai mencari mutiara-mutiara dalam lautan yang terbentang luas buat kita, cari seperti nyawa kita bergantung padanya. Dan di ketika itulah, hati kita terbuka - seluas-luasnya untuk menerima hidayah Allah dan mendakap cinta dan kasihNya.

Dan pada saat itu, Allah ketemukan kita dengan jiwa-jiwa hambaNya yang mengingatkan kita kembali kepadaNya, yang Allah utus jiwa-jiwanya kepada kita; untuk menyentuh hati-hati kita semula dan menghangatkan rasa dinginnya yang telah lama membeku dalam hati.

Mungkin tidak lama, mungkin masa kita bersama hanya seketika dan tak sesignifikan mana - selepas makan, menunggu untuk solat - bahkan jika dilihat dari jauh terasa seperti perbualan-perbualan biasa yang selalu dituturkan oleh orang kebanyakan. Namun di selang waktu-waktu itu, hatiku disentuh semula, dihidupkan apinya setelah sekian lama mula malap dengan arus waktu, di dalam hatiku, kuamati setiap bait kata-katamu dan entah mengapa pada waktu itu, hatiku dengan mudah menerimanya dan dengan mudah mengalirkan airmata. Ukhti, mungkin kita baru sahaja berkenalan, mungkin perkenalan kita tidak sedalam mana dan mungkin juga pada hari ini terasa seperti hari-hari yang biasa tetapi subhanAllah mungkin Allah telah mengutusmu untukku dan akhawat di sini untuk mengingatkan kembali mengapa kita berada di sini, di ketika ini, bersama kafilah ini.

Buat akhawatku di mana sahaja kamu berada, jangan pernah kamu sesali jalanmu ini, jangan pernah kamu sesali keberadaanmu di sini. Hatimu telah Allah sentuh dan sentak sekian banyak kalinya lewat murobbi-murobbi yang senantiasa tekun dan tidak putus-putus asa mentarbiah dan sahabat-sahabat di sekelilingmu yang tidak pernah jemu dan penat untuk menasihatimu dan berada di sampingmu walau sepahit dan sesukar mana perjalanan hidupmu. Ikatan ini bukan hanya ikatan keduniaan, bilamana ia akan terputus kerana sudah tiada lagi manfaat yang dapat diberikan. Ikatan ini bukan ikatan kebangsaan, yang hanya wujud kerana warna kulit yang sama atau tempat lahir yang sama. Ikatan ini adalah ikatan tasbih Allah, yang setiap butir tasbihnya melengkapi satu sama lain. Tanpa satupun butir tasbih itu, maka tidak lengkaplah tasbih itu.

Mungkin kita menyangka bahawa keberadaan kita tidak penting, tidak mendatangkan manfaat apa-apa pada dakwah ini. Mungkin kita merasa bahawa jika kita tidak menghadirkan diri dalam perkumpulan-perkumpulan seperti ini, banyak lagi perkara-perkara yang boleh kita lakukan untuk menggantinya.

Dengan rendah hatinya, dengan penuh kasih sayang padamu, aku katakan tidak, ukhti. Kamu tidak akan mendapatkan perkumpulan-perkumpulan ini sejauh mana kamu mencari di lautan dunia ini. Kerana di setiap saat bersama, di setiap pelukan dan sentuhan, dosa-dosa kita diampuni oleh Allah! Kerana di setiap saat bersama, kekuatan kita akan terus bertambah dan bertambah! Kerana di setiap saat bersama, ikatan sesama kita dan ikatan kita dengan Allah akan diperkukuhkan lagi!

Dan percayalah, dan imanilah bahawa jika kita tidak mengambil peluang ini dan menggenggamnya sekuat hati, maka kita akan diganti oleh orang lain.

"Maka jika kamu berpaling, maka sungguh, aku telah menyampaikan kepadamu apa yang menjadi tugasku sebagai rasul kepadamu. Dan Tuhanku akan mengganti kamu dengan kaum yang lain, sedang kamu tidak dapat mendatangkan mudarat kepadaNya sedikit pun. Sesungguhnya Tuhanku Maha pemelihara segala sesuatu."

Al-Hud, 11:57

Genggam eratlah nikmat dan hidayah yang telah Allah kurniakan kepadamu. Peganglah sekuat-kuatnya islam yang telah dikurniakan kepadamu. Dan ingatlah bila islam itu sampai kepada kita, kongsikanlah ia bersama yang lain! Kerana ia telah dikongsikan bersama kita pada awalnya.

S.H.A.R.E. = Saya Harap Allah REdha

Uhibbukunna fillah,

Bint Fadhil.

bismillahirrahmanirrahim

salam wrt,


there is a fine line between routine and actually doing something all out with your heart and soul. you might be doing both of them with all the strength you can possibly muster, you might be doing them at a seemingly impressive way as though you own it. but beware, those two carry different consequences.

the former; you'll probably end up with fatigue and unsatisfaction at the end of the day. the latter; you'll probably feel as if the whole world conspired to help you in doing whatever it is you're doing and thus with it, satisfaction comes along.

and what discriminates them from each other is your intention.

don't make a routine out of something magnificient Allah has granted you the opportunity to do. don't make a routine of of it just because you have been doing it for years now. don't make a routine of it because you think that's the only way you should be doing it.

the gift you have in your hands is something not to be routinized. get your intentions straight and start doing it the right way - "un"routinely as you possibly can. Remember Him every step of the way.

why do i feel so bashed up after reading my own entry?? urgh, it's not really a good feeling. means i have to do more than what i actually write.

and again, it goes back to our intentions. that's why it's the first hadith in An-Nawawi.

a short entry before continuing "de"routinizing my routine. =)

-farahfadhil

bismillahirrahmanirrahim..

salam wrt,

alhamdulillah, i've passed paediatrics. And one more to go, inshaAllah...

sorry for the prolonged absence; i always have something to write, but i can't seem to finish writing it. Probably because i don't spend enough time for it. i'll be having another exam this friday, inshaAllah (Epidemiology) but since i have this little spare time on my hands, i'd like to write something before i continue my usual exam routine (sleep, study, eat, study, sleep). it really is a miracle how i can keep up this routine for one whole week now, i think my time is better managed than my other usual days.

this time in Nizhniy, it is extremely cold. we had quite a surprise with the warm winter in the beginning but well, knowing Russia.. we're back to our old -15°C to -20°C winter.

anyways, i've always thought that to gain a new habit is not really hard. you just pick a habit and just start doing it. but now, it is proven (mostly by my own humble and little experience) that not only is it difficult to take up a new habit, it is much much more difficult to keep doing it and continue doing it. well, for example, you might want to try to pace up on your Quran reading and at first, you were really enthusiastic about it, you even try putting it up on your schedule for one hour per day just for Quran and as time goes by, you start getting busier with work/studies/family, you just lose the enthusiasm you had earlier and begin compromising it.

and as much as our other habits that we try to continue doing, we find ourselves always in the brink of exhaustion and giving up. either it's because we are too occupied with something else or we lost the "spirit" we had and slowly we sink back to our old self. we get tired trying, we get tired just thinking about trying. and at first we might feel bad about it - getting fed up and tired, losing the spirit (baca: semangat/himmah) - but then as time goes by, we feel comfortable about not getting up and trying again, almost at peace with ourselves and the condition we're in.

and to tell you the truth, honest i-swear-to-tell-nothing-but-the-truth, that is the worst part. feeling at ease that you're not trying or striving to become better. because...

"We have certainly created man into hardship. "

- Al-Balad, 90:4

it is in the nature that Allah has created us with hardship along with it. as long as we breathe, as long as our soul and body are united - hardships, trials and tribulations - will always be part and parcel of our life.

"[He] who created death and life to test you [as to] which of you is best in deed - and He is the Exalted in Might, the Forgiving"

- Al-Mulk, 67:2

So, whenever we are faced with any obstacles, instead of asking,"Why me, why am i always the one to get in trouble, it's like trouble has my name written all over it?" Ask ourselves,"Why not?" Allah has created us, granted us with many pleasures, given us everything we could and could not think of; it is just natural that in His Position and Power to take everything back because it is not ours to begin with.

But, despair not!

"For indeed, with hardship [will be] ease. Indeed, with hardship [will be] ease."

Ash-Sharh, 94:5-6

Whenever we feel like giving up, at the brink of the mountain, just wanting to jump down, first of all, don't jump! and ponder for a moment that with every struggle we face, with every trials we go through, we will not reach the end of the dark, unlit, tunnel alone, we will not face a dead end. Because there is always hope for the doers of good. The nature that Allah shows us every single day - at the dawn of a new day, the narrow, fine line at the horizon slowly rising up to the sky and alas, the sun with all its brilliance and might that Allah created it with - that there is always hope for us.

After the darkness and uncertainty of the night, the sun shines again to tell us that hope is always there. He is always there. Allah is always there. For us. For you and me.

"And those who strive for Us - We will surely guide them to Our ways. And indeed, Allah is with the doers of good."

-Al-Ankabut, 29:69

Taking up a habit of doing good and becoming better; there is an unspoken rule that trials and tribulations will come along with it. But mashaAllah, if we just believe and have faith, du'a, du'a and du'a, and always remind ourselves and others as well that there is a better, much much much better, hundreds trillion times better, the-world-is-like-a-part-of-a-mosquito's-wing-compared-to-jannah better, we will face the trials and hardships and be rewarded with something much greater than that, biiznillah.

Because hardships don't last forever. Jannah does.

-farahfadhil

~a reminder to myself before everyone else, inshaAllah.

Yang terhormat ustaz Hassan al-Banna,

Assalamualaikum wbth,

Apakah anda pernah mendengar tentang lelaki tanpa hati? Maaf, jika hati yang dimaksudkan adalah salah satu anggota tubuh dari daging yang berwarna merah, yang menarik dan melepaskan darahnya, tentu saja lelaki itu memilikinya. Yang dengannya dia dapat hidup & menjalani kehidupannya. Akan tetapi hati yang bersemangat, kuat & hidup, sayang sekali dia tidak memilikinya

Dia mengetahui kebaikan meskipun kecil, dia juga mengetahui keburukan meski pun samar-samar. Seringkali dia benar2 merasai & memahami perilaku seseorang dari wajahnya & dapat memberi respon terhadap hal itu. Akan tetapi, dia tidak memiliki hati.

Ketika bertemu dengan teman lamanya yang sudah lama tidak bersua, dia bersalam lalu menggenggam tangannya kuat, bahkan memeluknya. Namun hatinya, tetap beku, sama sekali tidak terpengaruh. Dia memberi nasihat kepada orang lain, "Jadilah kalian begini & jadilah kalian begitu", serta menyebutkan pelbagai dalil & bukti, namun hatinya semakin keras & tidak terpengaruh.

Dia tersenyum kala mendengar berita gembira. Dia juga mengerutkan dahi saat menerima berita duka.Akan tetapi, kegembiraan & kesedihannya hanyalah reaksi semula jadi semata, sedangkan hatinya tetap diam & tidak bergoncang. Dia menyatakan cinta & benci kepada seseorang. Tetapi ketika melihat hatinya, ia tetap diam tanpa memberi penjelasan. Dia berdiri menunaikan solat & berusaha khusyuk, membaca al-Quran & berusaha menumpukan perhatiannya. Ketika menunaikan solat, dia membaca bacaan solat dengan nadanya sehingga orang-orang pun berkata, "Dia itu khusyuk nampaknya." Akan tetapi ketika meraba hatinya, dia mendapatinya tuli & tidak khusyuk, walaupun memahami apa yang dibaca. Ini adalah gambaran sebenar yang terjadi pada hati lelaki itu.

Saya tidak melebih-lebihkan atau menguranginya. Menurut anda, apakah anda dapat mengatakan bahawa hatinya sama seperti kebiasaan hati orang-orang lain? Saya dianugerahi akal tetapi hati saya hilang. Saya merasakan akal fikiran saya cerdas berfikir, bekerja, hidup & menunjukkan kewujudannya. Akan tetapi, ketika saya ingin menghayati semua itu pada hati saya, sama sekali saya tidak menjumpainya. Saat ini, anda telah mendengar tentang seseorang lelaki yang tidak memiliki hati. Dia adalah seorang yang membuat perjanjian(baiah) dengan anda & anda telah mengambil janji setia darinya. Apakah anda rela jika seorang tentera anda hidup tanpa hati?

Apakah anda dapat membantu menghidupkan hatinya agar bergerak dan merasai apa yang diucapkan oleh lisannya? Inilah penyakit salah seorang tentera anda yang akan membuat anda sedih jika mengetahuinya. Oleh sebab itu, saya tidak akan menyebutkan namanya, hinggalah saya maklumkan anda bahawa dia telah sembuh.

Waalaikumussalam wbth

JAWAPAN ISHAB KEPADA RIJAL TANPA HATI

Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,

Saya telah membaca suratmu dan sangat terpengaruh dengan kejujuran bahasamu, keindahan keberanianmu, halusnya kesedaranmu dan HIDUPNYA hatimu. Saudaraku, kamu bukan orang yang hatinya mati seperti yang kamu sangka.

Akan tetapi, kamu adalah seorang pemuda yang perasaannya tajam, jiwanya bersih dan nuraninya lembut. Seandainya tidak bersifat demikian,tentulah kamu engkari perasaanmu. Akan tetapi besarnya semangat & jauhnya tujuan (matlamat hidup) membuatmu menganggap kecil urusanmu yang besar & engkau mengharapkan tambahan untuknya. Tidak ada masalah dalam hal itu & memang itu yang sepatutnya berlaku.

Saya merasakan apa yang kamu rasakan, saya berjalan sebagaimana kamu berjalan & saya akan berusaha untuk memberikan beberapa nasihat. Jika nasihat-nasihat ini bermanfaat bagimu & dengan melaksanakannya kamu lihat dapat menghapuskan dahaga serta mengubati sakitmu, maka alhamdulillah atas taufikNya. Namun jika tidak demikian, maka saya senang untuk bertemu denganmu agar kita saling bekerjasama untuk mengenal pasti penyakitmu & menentukan ubatnya.

Berteman dengan orang-orang yang khusyuk yang selalu merenung, bergaul dengan orang yang selalu berfikir& menyendiri, dekat dengan orang yang bertaqwa & soleh yang dari mereka terpancar hikmah & dari wajah mereka terpancar cahaya, & dari hati mereka bertambah makrifat -dan jumlah mereka adalah sedikit- adalah ubat yang mujarab.

Berusahalah berteman dengan orang-orang seperti mereka, selalu bersama mereka, kembali kepada mereka & kamu sambungkan rohmu dengan roh mereka, jiwamu dengan jiwa mereka serta kamu habiskan kebanyakan waktu kosongmu bersama mereka. Hati-hatilah dengan orang yang mengaku-ngaku. Carilah orang yang keadaannya membuatmu bangkit bersemangat, perbuatannya membawamu berbuat baik & jika kamu melihatnya maka kamu mengingat Allah.

Berteman dengan orang-orang seperti ini adalah salah satu ubat yang mujarab kerana watak manusia sering mencuri, sehinggalah hati terpengaruh dengan hati yang lain dan jiwa pun mengambil contoh dari jiwa yang lain. Oleh kerana itu, berusahalah untuk menemukan jiwa-jiwa yang soleh sebagai teman.

Saudaraku, berfikir, berzikir di waktu-waktu yang suci, menyendiri, bermunajat serta merenung alam yang indah dan menakjubkan, menggali rahsia keindahan & keagungan alam, meneliti dengan hati & berzikir dengan lisantentang tanda keagungan yang menakjubkan serta hikmah yang agung ini, termasuk hal yang memberi kehidupan kepada hati dan menyinari kalbu dengan keimanan & keyakinan.

Allah swt berfirman; “Sesungguhnya dalampenciptaan langit & bumi, dan silih bergantinya malam & siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yangberakal.” (Ali-Imran : 190)

Saudaraku, seterusnya berfikir tentang masyarakat, melihat pelbagai penderitaan, kebahagiaan, kesulitan serta keamanan, menjenguk orang sakit, menggembirakan orang yang ditimpa bencana & mengetahui sebab kesengsaraan yang berbentuk pembangkangan, kekafiran, kezaliman, pelanggaran, sikap mementingkan diri, egois, terpedaya oleh hal-hal yang semu, semua ini merupakan cantuman bagi rantaian hati yang menyatukan cerai berainya & menghidupkannya dari kematian.

Maka berusahalah agar kewujudanmu menjadi penghibur bagi sengsara & tertimpa bencana. Tidak ada perkara yang pengaruhnya lebih kuat terhadap perasaan daripada berbuat baik kepada orang yang sangat memerlukan, membantu orang yang teraniaya atau berkongsi rasa dengan orang yang susah atau sedih.

Saudaraku, hati ada di tangan Allah. Dia mengubahnya sesuai dengan kehendakNya. Oleh kerana itu, bersungguh-sungguhlah dalam berdoa, agar Dia memberikan kehidupan kepada hatimu, membuka dadamu dengan iman &melimpahkan keyakinan kepadamu sebagai anugerah serta nikmat dariNya. Berdoalah di waktu-waktu mustajab &waktu sahur kerana doa pada waktu sahur adalah ibarat anak panah yang meluncur tidak terhenti sehingga sampai ke Arasy. Saya tidak meragui keikhlasanmu dalam mencapai tujuan & kejujuran dalam pengakuanmu.

Allah swt berfirman; “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertaqwa.”(Al-Maidah : 27)

Saudaramu, Hassan Al-Banna.

Bismillahirrahmanirrahim...

I remembered a while back when my dermatology professor told us, "Skin is like a mirror of our internal organs." If there is something wrong with your skin, you should definitely think about something wrong going on inside your body (either it is because of a disease, immune deficiency.. well, the list goes on, i'll probably bore you if i list them all down here). There were a whole lot of other things the professor told us, some of which really taught me, not only about dermatology and medicine but also about life. That was what i liked most about my dermatology cycle, you can gain all the knowledge you want from books and the internet but life experience is something invaluable to share with, something you can't get from books.

And so the same goes for us. sometimes, the way we talk, the way we look at others and talk to them, the way we smile and just by what we do, we actually convey if not all, part of what is inside of us. We do what our heart and mental judgment tells us too. We speak about what is in our hearts, about what is in our minds. If our hearts and minds are troubled, the things we do and talk will also be affected.

"Truly in the body there is a morsel of flesh which, if it be whole, all the body is whole and which, if it be diseased, all of it is diseased. Truly it is the heart."

And in one of those many cases, especially when our iman and our hearts are not quite on the healty side (read: futur), we inevitably might have done slight glitches that might have affected those around us. Often, we keep asking, "Why am I the only one left out in this?" or "Why am I the one doing this?" or "I'm disappointed with everyone around me that I feel like I just want to sit at home and keep to myself" or.. well, you get my drift. We are so occupied with ourselves that we forget to look around us and see what others are going through, possibly the times they are going through are tougher than us. At times, we forget to smile or ask how they are doing. And even if we already know that giving salam is the best way to spread love, as in Rasulullah's hadith...

The Prophet صلى الله عليوسلم said, "You shall not enter Jannah until you believe, and you shall not believe until you love one another. Shall I not direct you to something that if you were to do it, you would love one another? Spread Salam amongst yourselves." [Muslim]

... maybe we tend to forget about it. There's always a difficulty especially when we want to confess our love to our friends and loved ones, when instead, Rasulullah S.A.W. has shown us the easiest way; spread salam and you will spread love. Ain't that sweet?

So, maybe we have our ups and downs. During the ups, we smile and laugh together but during the downs, we'll stick together through thick and thin. Because we know that ultimately, this bond between us is stronger than of blood, than of any kind of bond in this world, biiznillah...

"Truly Allah loves those who fight in His Cause in battle array, as if they were a solid cemented structure." (61:4)

No matter how much we dispute, how many disagreements we face, how many frowns we might have accidentally (oops!) shown to each other, be patient and be merciful to one another (read: rahmah) because what keeps us together is Allah. Because Allah loves when together we fight, we work and we strive for His sake. As Muslims and inshaAllah as Mukmins, love for Allah must always be number one, must always be the one to surpass love for others..

If you're asking why the title for this post is "Rising from the Ashes"? (erk, ada org ke yg nak bertanya?) Well, if you're well-acquainted with a mythical creature called 'phoenix' (best seen in Harry Potter movies, yeah that bird which carried the sword and healed Harry's wound... yes, guilty as charged, i used to be a "harry potter-kipas-susah-mati"), i'm kind of fond of that creature. Mostly because whenever it burns to ashes, it will rise again from the ashes. And to me, that's something we should learn from the mythical creature; whenever we fall down, whenever we fail, whenever we are depressed, disappointed with life and the world that we live in (read again: futur), we should always find a way to get back up again. And most of the time, that way is not going to be easy. But who do we ask the strength from?

No other than Allah 'Azza wa jalla.

Allahu'alam.

ps. alhamdulillah, i've managed to update a new post here (i've been keeping this post for several weeks now)

pss. asif jiddan to all my lovelies. i know i've been hard to deal with these couple of weeks. (read: emo)

pss. "Dalam Mihrab Cinta" is on youtube!

psss. if you're very, very, very free, check out "Sang Pencerah" too




Alhamdulillah. Subhanallah. Allahu akbar.

Tak ku sangka akan kusampai ke puncaknya

merasakan dekatnya Nabi Musa dengan Penciptanya

merasakan ketakutannya ketika gunung Sinai hancur luluh menjadi debu

perjalanan ke puncak yang mencabar

merintih kelelahan usah ditanya berapa kali

namun perjalanan ke puncak itulah yang banyak mengajar

erti kesabaran dan tawakkal

dan ketika tiba di puncak

sejuk bayunya menggigit tulang

namun kudapat rasa manisnya

ketika melihat tempat Nabi Musa bermunajat

ketika melihat di mana dia sembunyi ketakutan pabila Allah menunjukkan kuasaNya

ketika kekasihNya Muhammad pernah menjejakkan kakinya

ketika melihat fajar menyinsing

dan sinaran pelita fajar yang naik di sebalik awanan

berdirinya ku di puncak itu

oh, kerdilnya hambaMu ini!

namun tidak dapat kukira

betapa banyak kalinya aku alpa, sombong

di puncak itu hatiku membisik

Subhanallah

Allahuakbar

Kaulah Pencipta semuanya

Tak dapat aku mengalahi sesuatu apapun dari penciptaanMu itu

namun Kau tetap melihatkannya semua padaku

Kau tetap menyuluh hati yang kecil dan lemah ini

Kau tetap mengisinya dengan cinta

dan di puncak itu

aku memperbaharui cintaku padaMu.

Memori Tur Sina, 28 Januari

bismillah...

barangkali aku memerlukan ruang
ruang untuk muhasabah
ruang untuk memikir
ruang untuk bersamaNya...
kerana sungguh, hatiku layu
hatiku rindu
hatiku sangat-sangat membutuhkan
hatiku
hatiku
hatiku
sangat-sangat ingin mendakap cintaNya.

dan di kesibukan duniawi, barangkali aku lupa tentang itu.

aku rindukan aku yang dahulu.

bismillahirrahmanirrahim...

“Dengan membersihkan hati dan meluruskan niat, hanya untuk mencari ridha Allah, BismillahirRahmaanirRahiim… kami berdua belas mewakili 220 juta rakyat Indonesia, ikut dalam kafilah ini membantu saudara-saudara kita di Gaza yang sedang dizalimi sekaligus menyatakan ‘tidak’ kepada kebiadaban penjajahan Israel selama 63 tahun terakhir ini,” demikian dikatakan Ferry Nur, ketua delegasi Indonesia yang juga Ketua Umum KISPA (Komite Indonesia untuk Solidaritas Palestina).

Di samping berjuang utk menghadapi exam, berdoalah semoga ikhwah akhwat fillah kita di Palestin juga tabah dan tsabat berjuang. inshaAllah.

"strength is with none but Allah!"

ps. for more info... click here, and here.
pss. doalah semoga kita ditenangkan hati dan diberikan kemudahan utk memahami dan mengingati ilmu-ilmuNya. (dan tidak lupa juga ketakutan kerana tidak ada perasaan takut dan resah lagi T__T)

allahu'alam

Bismillahirrahmanirrahim...

Salam wrt,

hari ini aku melihat pokok-pokok kehijauan...
tenangnya sungai Oka ditemani birunya langit...
angin yang sekali-sekala menghembus dari tingkap bas No. 12 itu..
dan di tika itu,
aku merasa rindu...
rindunya padaMu, Ya Allah!
tak terucap rasa, tak terungkap kata
aku inginkan cintaMu, Ya Rabb!

3:191 "(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), "Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka..."

Wallahu'alam.

ps. sekadar perkongsian rasa di kala penat berulang-alik dari kelas Dr. Andrei Aleksandrovich Goldenberg.

bismillah...

salam wrt,

kerana cinta dan ukhuwah aku mula menulis semula... Ya Allah, hanya Kau sahaja yang tahu betapa kosongnya hati ini bila telah lama aku tak menitipkan perasaan, himmah yang membara di sini.

Rasa sangat bersalah pun ada!

Terlalu banyak yang ingin di"share"kan di sini. Hehe... Tetapi, ada satu cerita ni yang kalau saya tak share di sini rasa macam rugi sangat. Jazakumullah juga kepada yang share cerita ini dan meremindkan semula ttg cerita ini pada saya. =)

Warning: Dalam kesemangatan saya bercerita, kemungkinan percampuran bahasa akan berlaku.

Pada Hari Yang Dijanjikan Allah (Hari Akhirat), akan ada satu golongan yang apabila diberi "green light" utk masuk syurga, terus mereka berlarian menuju syurga, tak pandang belakang, atas, bawah, kiri, kanan.. dalam hati-hati mereka terucap rasa syukur dan bahagia yang tiada tandingnya. Dan of course, siapa yang tidak akan buat begitu kan?

Tapi, yang peliknya... ada segolongan lagi yang tidak mahu masuk syurga lagi. Even when they already know that they will be inhabitants of Jannatullah, they will stand still. Dan mereka mula bertanya kepada Allah,"Ya Allah, saudara-saudara kami masih ada di dalam neraka... Saudaraku yang sentiasa bersamaku ketika solat, ketika puasa, (ketika berbuat apa-apa pun amal). Selamatkanlah mereka dari api neraka.. Tolonglah, Ya Allah!" Dan mereka pun merayu-rayu kepada Allah supaya mengeluarkan saudara-saudara mereka dari neraka.

Dan Allah Yang Maha Pengasih, Lagi Maha Penyayang berkata,
"Pergilah dan keluarkanlah di antara saudara-saudaramu mana yang kau rasakan di dalam hatinya ada kebaikan sama dengan satu dinar"..

Berbondong-bondonglah mereka masuk ke neraka untuk menarik saudara-saudara mereka keluar dari neraka. And even at one time, the hellfire reaches till their knees, but it does not burn them. Subhanallah... And they will take whoever they recognize in the Hellfire and quickly take them out from it.

Allah berkata lagi,"Keluarkanlah mana-mana saudaramu yang kau rasa mereka punya kebaikan sama dengan setengah dinar dan mereka pun masuk semula dan mengeluarkan sesiapa sahaja yang mereka kenal. And for the third time, Allah berkata,"Pergilah dan keluarkanlah saudaramu yang kau rasa punya
kebaikan dalam hatinya seberat satu atom pun." Dan sekali lagi, mereka pun turun beramai-ramai untuk mengeluarkan sesiapa yang mereka kenal dari api neraka.

Hmm.. sounds truly unbelievable, no?

But yet, Allah has said in the Quran...

"Surely! Allah wrongs not even of the weight of an atom (or a smallest ant) but if there is any good (done) He doubles it."
4:40

And with that smallest weight of an atom of kindness, He grants Jannah to whomever He wants. Dan apa yang lebih bermakna, apa yang lebih menyentuh hati adalah apabila
saudara-saudara mereka sendiri yang masih ingat kepada mereka, yang masih ingin menolong mereka walaupun di akhirat nanti, yang selalu dikatakan kita akan melupakan manusia-manusia lain dan bimbang tentang pengakhiran kita sendiri. Tapi berbeza dengan mereka!

Subhanallah, sangat berbeza dengan mereka!

Mereka yang sanggup masuk ke api neraka (yang mengaum dan menjulang tinggi hingga ke langit apinya, yang bila Rasulullah sendiri dengar tentang keadaan di neraka-dengar sahaja-mahu kena heart attack dia!) dan mengeluarkan sahabat-sahabat, keluarga mereka darinya. Dan bukan sekali sahaja masuk neraka tu, sampai 3 kali!
Sangat Penyayangnya Allah, meletakkan rasa cinta dan kasih sayang di dalam hati-hati kita, sehingga kita sanggup mengorbankan segalanya demi cinta dan ukhwah keranaNya.

Siapa kata ukhwah hingga ke akhir hayat sahaja?

Hingga ke syurga, inshaAllah! =))

Wallahu'alam.

ps. for further reference, Sahih Bukhari, Book 9, Volume 93, No. 532s

Bismillahirrahmanirrahim..

Salam wrt,

Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah. All thanks are for Him as I breathe today with the understanding and comprehension He has given me. Asif jiddan kerana lama benar tak update blog, rasanya kalau guna vacuum pun tak dapat nak membersihkan sawang-sawang yang ada.. hehe... A few days I thought over the same thing, how I used to be and how it still affects me a little (at times, a lot) Ya benar, masih ada karat-karat Jahiliyah yang kadang-kadang melambatkan pergerakanku.. Mujahadah itu perlu bagi setiap Muslim. Di manakah letaknya iman kalau kita tiada mujadah? I used to think that when I'm about to do something, I just do it. Half-heartedly. What's in it for me, anyway?

But how was I wrong. So wrong.

Rasulullah bersabda, pada "Hari Infinity" nanti, akan ada seorang yang terakhir keluar dari neraka Jahannam. Dan bila dia keluar sahaja, dia rasa dialah orang yang paling beruntung sebab dapat melalui pelbagai azab dan masih dapat keluar dari neraka (padahal rasanya, orang yang memasuki Jannah bukan ke lebih baik?). Allah pun bertanya kepadanya kalau dia perlukan apa-apa lagi.. Dengan senang hatinya, dia menjawab, "Takpe2, ya Allah... aku dah cukup gembira dok bwh pokok yg rendang ni.. byk buahnya, sungai pun ada.."

Dan ceritanya berakhir begitu sahaja.

Hehe... tidak2, itu gurauan sahaja... Dengan izin Allah, Allah menampakkan kepadanya sebuah pokok yang lebih besar dengan lebih banyak buah dan dengan sungai yang lebih besar. Maka, lelaki itu tadi pun meminta kepada Allah agar dipindahkan ke pokok yang lebih besar tu. "Eh, kata tadi dah taknak apa-apa dah?" Allah bertanya (maaf, ayat yang exact tak dapat di kenal pasti). Dan lelaki itu pun merayu-rayu untuk dipindahkan ke pokok yang lebih besar itu. Dengan rahmat Allah, dia pun duduklah di bawah pokok besar itu. Kisah ini berterusan sampailah pada satu masa, Allah menampakkan syurga kepadanya (barangkali lelaki itu panjat pokok dan terintai-intai syurga.. mungkin? Hanya Allah yang tahu) dan serta-merta dia jatuh cinta pada syurga dan merayu dengan gila-gila pada Allah (begging, grovelling, you name it). Dah tiada malu dah untuk terus meminta supaya dimasukkan ke syurga.

Allah pun bertanya,"Adakah kamu nak masuk ke dalam syurga yang isi di dalamnya lebih hebat dari isi di dunia? Adakah kamu nak masuk ke dalam syurga yang isi di dalamnya lebih hebat dari isi di dunia?" Allah pun mengulang-ulang pertanyaan tu sebanyak 10 kali.

Lelaki itu pun terkebil-kebil dan berkata (dalam English best sikit kot), "Oh Allah, are you making fun of me?" "Kau buat lawak dgn aku ke, Ya Allah... Aku nak masuk syurga ni!" Betapa desperatenya lelaki itu nak masuk syurga.

Periwayat hadith itu senyum. Kerana Rasulullah pun tersenyum dan bertanya kepada yang mendengar cerita itu, "Tak nak tanya ke kenapa aku senyum?"

Nak tanya jugalah, "Tak nak tanya ke kenapa aku senyum?"

Kalau tak nak tanya pun takpelah, akan aku kisahkan jua..

Rasulullah senyum sebab Allah SWT pun senyum (sweet kan?). Allah senyum kerana dengan rahmat, kasih sayang dan cintaNya... Dia memasukkan lelaki itu ke dalam Jannah...

Sometimes, we have a very vague idea of how Jannah is like, it is full of grape trees, streams, you can have whatever you want in there. But truth is, it is more than what we think it is. Saya rasa syurga itu macam itu atau macam ini... tidak! Syurga itu lebih dari itu! Lebih dari apa otak kita (walaupun berfikir di luar kotak) dapat membayangkan. It is more than that!! We're talking about infinity here, people!

So, what has this hadith have anything to do with mujahadah?

Like Stephen Covey said... "To begin with the end in mind." In whatever we do, whatever we strive for, we have to have an aim (for example, Jannah), a push that keeps us going, a striving force, an impact force that makes us move with ultimate strength like we've never known before. Jihad untuk melawan diri sendiri, berdakwah dan berjihad fi sabilillah, bekerja untuk Islam sepenuh masa... what makes us go far?

Aim. Objective. And himmah (intention yang tinggi, semangat yang tinggi)

Like a brother once said, "Benjo tak sesedap burger!"

Kenapa? Sebab di dalam benjo, isinya hanyalah telur. Apa yang diperlukan untuk mendapat telur adalah dengan bertelurnya seekor ayam. Ayam tu tak syahid atau pengsan pun semasa bertelur. Tetapi lain pula dengan burger yang isinya daging. Memerlukan pengorbanan seekor kambing! Seekor kambing yang mati untuk memberikan kita burger dan hanya sebiji telur (tanpa apa-apa pengorbanan dari ayam) untuk memberi kita telur.

Di dalam kerja kita, apa sahaja yang kita lakukan, we must try our very best!!! Cubalah sedaya upaya hingga habis tenaga upaya kita! Bekerjalah, belajarlah, berdakwahlah sepenuh tenaga, jiwa dan raga! Ikhlaskan hati tanpa mengharap apa-apa balasan dari orang lain melainkan hanya untuk mardhatillah, nescaya apa orang lain kata, apa orang lain buat, apa yang kita lalui akan kita harungi semuanya kerana Allah sahaja.

Kerana kita punya aim. Dan aim kita itu memerlukan pengorbanan yang BESAR.

"(Iaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui."
"Nescaya Allah mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam syurga yang mengalir sungai-sungai, dan ke tempat-tempat yang baik di dalam syurga 'Adn. Itulah kemenangan yang agung."

Silalah refer As-Saff, 61:11-12

Semoga yang ditulis ini dapat memberi peringatan bagi yang membaca dan juga yang menulisnya.

Wallahu'alam.

Salam wrt,

Aunt Swee Moi's funeral ceremony went smoothly, kata abangku. She was cremated katanya lagi. Semoga ayah di rumah dapat tabahkan hatinya. Tidak dapat kukirimkan apa2 kepadanya kecuali kalam-kalam Allah...

Somehow, it might seem imperceptible to us... but I realized how with the smallest of things, or the biggest of things, Allah could make us happy if He wanted to. Like the rain (yes, I really love the rain).. Some people might say, "Oh, it's raining again.." and continue doing whatever it is they're doing but some might jump up and down with happiness and feel a sense of relief and hope. To me, rain is a sign that Allah is still here, right here beside us, caressing us with every drop of rain.

"Allah-lah yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang Dia kehendaki, dan menjadikannya bergumpal-gumpal, lalu kau lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila Dia menurunkannya kepada hamba-hambaNya yang Dia kehendaki tiba-tiba mereka bergembira.."
Ar-Rum, 30:48

Kita sering mabuk dengan kegembiraan dan asyik dalam kejayaan yang kita peroleh sampai kadang-kadang kita lupa semua kekuasaan, semua kekuatan yang kita ada bukanlah milik kita. "Strength is with none but Allah"! Every victory that we achieve, every paper that we score, every exam that we succeed with flying colours, it is all in the power of Allah. Dia berkuasa untuk menjayakan kita dan Dia juga berkuasa untuk menggagalkan kita.

And because of our inevitable tendency to forget, Allah reminds us that with every victory we achieve, always remember to tasbih and istighfar.

"Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha Penerima Taubat."
An-Nasr, 110:1-3

Tetapi kenapa Allah nak beri kita kemenangan? Maybe it is a test from Him to see how grateful we are towards Him. Do we still remember Him after all the achievements and the success? Sedar tak sedar, setiap masa pun kita diuji, di kala sedih dan juga di kala kita gembira.

And...

"(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu,"Sungguh Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut." Dan tidaklah Allah menjadikannya melainkan sebagai kabar gembira agar hatimu menjadi tenteram kerananya. Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana."
Al-Anfal, 8:9-10

Sweet kan Allah? Memberi kita kemenangan hanya kerana Dia tahu, kita gembira dengan kemenangan itu (setelah berusaha gila2)...

Oleh itu, ingatlah Allah pada setiap masa... =)



ps. blog akan hiatus... (walaupun sblm ni byk je hiatus2nya)

Wallahu'alam.





Pemergianmu membuatku sedih, rindu menggamit kalbu...
Seribu kesalan kerana tak dapat kuluahkan semuanya, tak mampu untuk melakukannya...
Gelak tawamu dan keceriaanmu akan sentiasa mengiringi perjalananku...
Ketabahanmu akan sentiasa kuingati.
Terima kasih kerana sentiasa menyokongku..

Aunt Goh Swee Moi
(1949-2009)

Salam wrt,
Bismillahirrahmanirrahim











Inilah dia kucing yang selalu dalam tajuk perbualan seharian kita, tidak kira di 8th floor atau di 9th floor atau di mana-mana sahaja. Ramai mengatakan mukanya penyek, mukanya garang, bulu lebat macam karpet, suka baring2 dgn position yg kurg sopan, busuk sbb tk mndi, karpet habis dicakar-cakarnya, mcm2 lagilah..

Tetapi walaupun org selalu mengatakan ttg dia, Bam bam inilah, Bam bam itulah... tetapi tetap ada org dtg menjenguknya... mungkin bagi mereka seekor kucing inilah pengubat hati mereka, menceriakan duka hati yang lara (chewah..!). Walaupun malas dan kadang-kadang tidak mahu melayan orang, tetapi keberadaannya dah cukup untuk menyejukkan hati. Cukup terharu juga bila dia bermiao dgn kuat sekali setiap pagi untuk mengejutkan org subuh... Jarang sekali mahu bermain, tetapi bila dia bermain, hati kita pula yang terasa riang... Suka pula pandang orang dengan mata besarnya dan muka kesiannya, sengaja mahu menagih simpati dan bermanja-manja.

Terfikir pula aku mengapalah makhluk sebegini diciptakan?

Isn't everything created in this world is for us humans? Ayam yang berkokok setiap pagi (kat Russia ni tak pernah pula jumpa, tapi teringatkan ayam di kampung), matahari yang bersinar di luar sana membuatkan org Russia yg depressed se depressed-depressednya pun happy, malam sebagai waktu rehat, org-org yg di sekeliling kita sebagai peneman hidup, pokok-pokok hijauan yg membekalkan O2 kpd kita dan mcm2 lg.. Allah itu kan sifatnya Al-Wahhab... memberi dan terus memberi.. tak pernah jemu memberi.. siang dan malam kita berdoa kepadaNya, tidak pula Dia jemu mendengarnya dan insyaAllah Dia akan kabulkan doa kita, Allah tak pernah pun memberi sesuatu yg tiada kegunaannya utk kita, memberi pula tanpa diminta... Rasa-rasanya, tak pernahlah pula kita minta seorang mak yang penyayang, baru Allah nak bagi, betul tak? Mak, sejak dari lahir sentiasa ada di sisi kita...

Actually, every single thing in this universe-if we just stop and ponder about it-has its own role and use and everything is not created just for fun, or just because He wants it there, He puts it there. And He creates all these for us. Just for us. In hopes that we use them the best we can, for the good.

"Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, Allah benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang." QS An-Nahl, 16:18

Is He not the Most Giving and the Most Loving?

"Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata),"Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka." QS Ali-'Imran, 3:191

ps.Rasa macam gambar tu tak bagi enough credit kat Bam bam. Serious muka dia tkdelah garang mcm ni...

Wallahu'alam.